Pendapat

Nice to read, semoga bisa menambah kekayaan ‘qolbu’ anda.

Cheers

Sudah dua minggu ini Susi mendapat kesulitan.
Bukan kesulitan pekerjaan, tapi kesulitan yang diakibatkan oleh sikap
seseorang. Seseorang tersebut adalah salah satu rekan kerjanya yang lebih senior. Sebut
saja namanya Yati.

Sebetulnya masalahnya sederhana. Kemarin Susi dipanggil oleh atasannya dan
diberitahu bahwa dia akan dikirim ke kantor pusat di luar pulau agar bisa mempelajari
banyak hal yang akan berguna dalam bekerja sehingga dia bisa bekerja lebih baik.

Sebetulnya Susi agak takut. Dia belum pernah keluar pulau, apalagi dikirim
ke kantor pusat. Rasanya ngeri juga ketika membayangkan dia tidak mengenal seorang pun di
kantor pusat. Bagaimana di sana nanti?

Dia harus tinggal cukup lama lagi, dua minggu. Meskipun khawatir namun Susi
merasa senang sekali. Demikian juga teman-temannya, atasannya dan keluarganya.
Tapi ternyata tidak semua orang senang mendengar kabar tersebut.
Yati merasa iri karena dia ingin dikirim tapi belum pernah dikirim ke kantor
pusat. Susi sendiri juga tidak mengerti mengapa dia dikirim.

Mungkin atasan melihatnya cukup rajin bekerja dan selalu ingin mempelajari
segala sesuatu.Karena itu kemarin Yati menyindirnya. Ketika mereka sedang bersama-sama
makan siang di ruang istirahat, tiba-tiba Yati nyeletuk:”Aneh ya?
Banyak dari kita yang sudah lama bekerja di sini,
tapi belum pernah dikirim ke kantor pusat. Saya belum pernah.

Kamu sudah?”, tanyanya kepada seseorang di ujung ruangan sehingga
suaranya terdengar ke seluruh ruang istirahat. Orang yang ditanya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
Yati berteriak:”Tuh kan? Kalau ikut aturan, pasti kita duluan kan?

Kalau sampai ada orang baru yang dikirim, pasti ada apa-apanya!
Kalau tidak ada apa-apanya, harusnya dia usul dong supaya yang lebih senior
yang dikirim. Ya nggak? Ya nggak?”.

Teman semejanya ada yang berkata:”Biarkan saja”.
Tapi ada juga yang berkata:”Benar juga sih si Yati.
Sudahlah. Kamu tolak aja, biar Yati yang berangkat”.

“Iya, daripada enggak enak, kamu mengalah saja.
Usulkan saja supaya Yati yang berangkat,” kata teman lainnya.
Kebingungan, Susi kemudian menuju ke ruang atasannya.
Kebetulan beliau baru saja selesai makan. Susi menceritakan kejadian di ruang istirahat tadi.

Atasan Susi mendengarkan dengan tenang. Setelah Susi selesai,
atasannya berkata “Kamu merasa ada apa-apanya atau tidak?” “Tentu tidak,”
jawab Susi.”Oke. Kamu merasa berlaku licik agar bisa dikirim?” tanya beliau lagi.
“Tidak,” kata Susi. “Nah, mengapa kamu pusing? Apa yang dikatakan olehnya
kan bukan kenyataan? Kalau kamu memang berbuat salah, ya kamu harus
perbaiki. Tapi kalau kamu sudah benar, ya sudah.”

Jual keledai
Kemudian atasannya bercerita.
“Masih ingat cerita orang yang ingin menjual keledainya di pasar?
Dia pergi bersama anaknya ke pasar untuk menjual keledai.
Anaknya dinaikkan di punggung keledai,
sedang orang itu menuntun keledai sambil berjalan di sampingnya.

Di tengah jalan, mereka bertemu seseorang yang berkata:”Ya, ampun! Anak tak
tahu diri. Masa orang tua disuruh jalan kaki sedangkan kamu yang masih muda naik
keledai?”Maka, anak itu segera turun dan ayahnya menggantikan naik ke punggung
keledai.

Tak lama kemudian mereka bertemu dengan orang lain. Orang tersebut berkata
“Ya ampun, masa bapaknya yang sudah dewasa naik keledai sedangkan anaknya
yang masih kecil disuruh jalan? Tega sekali?”

Mendengar itu, segera orang itu mengajak anaknya naik keledai bersamanya.
Tak lama kemudian mereka berjumpa dengan orang lain lagi.
Orang tersebut berkata “Aduh, sudah gila ya?
Masa dua orang naik semua ke atas punggung keledai?
Kejam sekali kalian terhadap binatang? Mentang-mentang keledainya mau dijual,
kalau memang mau dijual ya dirawat dong supaya keledainya sehat dan laku
mahal.”

Mendengar hal itu, mereka turun dari punggung keledai
dan mereka berdua menggendong keledai itu agar keledainya sehat dan tidak
lelah, sehingga bisa dijual dengan harga lebih mahal.

Tak lama kemudian mereka berjumpa dengan orang lain lagi. Orang tersebut
berkata “Gila!
Semua sudah gila! Masa keledai digendong begitu?
Mengapa tidak dituntun dan dinaiki saja?”
Mendengar itu kedua ayah beranak tersebut tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Semua yang mereka lakukan selalu disalahkan orang.”

“Nah, kamu tahu kan arti cerita tersebut? Boleh saja kita mengikuti nasihat
orang lain. Tapi kita juga harus menimbang mana nasihat yang baik untuk diikuti.

Kalau ada teman yang bermaksud baik dan memberi nasihat, ikutilah.
Tapi kalau hanya saran yang diucapkan karena iri atau hal lain, untuk apa
didengarkan? Biarkan saja. Dia sebenarnya sedang menderita dalam hatinya karena rasa iri
itu. Kasihan kan?”

Susi hanya bisa diam mendengar perkataan atasannya yang panjang lebar
tersebut. Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Kalau dia memperhatikan semua omongan
orang tanpa menganalisanya, wah bisa repot. Seperti penjual keledai tadi. Bingung
kan?

Pandangannya terhadap Yati berubah. Dia tidak benci, malah merasa kasihan.
Sikapnya terhadap Yati menjadi lebih ramah dan wajar. Susi bisa bersikap
lebih sabar.

Ternyata, perubahan sikap Susi membawa pengaruh positif. Sikap Yati mulai
lebih lunak. Bahkan tadi pagi Yati malah titip uang agar dibelikan kerupuk udang.
Tidak semua pendapat orang lain benar.Diperlukan sikap terbuka dan analisa.

Tidak perlu dipengaruhi emosi.

Be open to suggestions! Be logic!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: