PRT (pun) bisa bikin Novel

NEGARA ini kembali diguncang isu penganiayaan pekerja (bukan pembantu) rumah tangga atau PRT.Adalah Ceriyati,PRT asal Brebes di Malaysia, yang melarikan diri dalam cara yang dramatis, menggunakan kain yang disambung-sambung lalu turun dari gedung berlantai 15.

Secara tidak adil, PRT banyak mengalami perlakuan tak menyenangkan secara
fisik dan psikis.Namun, lebih tidak adil lagi karena PRT mengemban stereotip
yang merendahkan derajat kemanusiaannya: babu, bodoh, dan miskin. Dengan
stereotip semacam ini,sulit bagi seorang PRT mengekspresikan kemampuannya di
bidang-bidang lain. Maria Bo Niok,penulis novel Ranting Sakura ini, berupaya
melakukan pembuktian bahwa segala stigma terhadap babu tidaklah benar.

Caranya adalah dengan menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Sebuah bakat
terpendam yang tak pernah tergali seandainya dia sendiri tenggelam dalam
citra-citra mengenai PRT yang merugikan. Bo Niok pun memutuskan menulis
karya-karya sastra, termasuk novel ini. Ranting Sakura mengisahkan
perjuangan seorang Amei, buruh migran asal Indonesia di Taiwan (kemudian
Hong Kong) dalam mempertahankan cinta dan buah hati. Amei menikah siri
dengan David, seorang dokter di Taiwan.

Namun bencana hadir justru ketika berada di negeri sendiri, diperkosa oleh
Joni, mantan pacarnya saat Amei tengah hamil (anak dari David).Barangkali
ini penggambaran ekstrem hujan batu di negeri sendiri dan hujan emas di
negeri orang lain. Amei semakin dalam jatuh dalam kesengsaraan ketika harus
menikah dengan Joni, yang terutama akibat keputusasaan menunggu kejelasan
kabar dari David.Bersama Joni yang pemabuk, Amei mengalami kekerasan fisik
dan psikis luar biasa sampai ketika anak Amei lahir (Shen Shin), suami
anehnya itu pernah hendak membunuh Shen Shin.

Amei bersikap tegas dengan mencerai dan mengusirnya, meskipun harus memenuhi
keinginan Joni terlebih dulu. Amei memutuskan kembali menjadi buruh migran,
kali ini ke Hong Kong, dan menitipkan Shen Shin kepada orang lain dengan
perjanjian.David sendiri dari awal telah mengkhianati cinta Amei dengan
hidup bersama Chen Chen,sampai memiliki anak.Chen Chen meninggal dalam
sebuah kecelakaan tragis.

Ketika pulang ke Indonesia, Amei kembali dihadapkan pada persoalan pelik di
mana Shen Shin, anaknya, menjadi bahan pemerasan dari keluarga yang
dititipinya dulu.

Mereka meminta tebusan uang dalam jumlah besar, yang memaksa Amei kembali
meminta tolong kepada David. Dalam fase ini,Amei berkenalan dengan seorang
sastrawan muda dari Yogya, Zalie, yang mampu menawarkan kedukaan Amei,
terutama karena Zalie memperkenalkannya pada sastra. Membaca Ranting Sakura
seperti membaca kehidupan pengarangnya secara langsung.

Harapan kita, Ranting Sakura adalah awal karier kepenulisan seorang Bo Niok
dan amat ditunggu karya-karya selanjutnya yang lebih tajam dalam menampilkan
persoalan-persoalan yang dihadapiburuhmigran. Saya yakin,semakin banyak
novel yang mengelaborasi penderitaan buruh migran, akan semakin kuat pula
upaya dan perjuangan mereka untuk semakin diperhatikan pemerintah.

Kurangnya fiksi dalam masalah keburuhmigranan sedikit banyak mengurangi
empati publik yang (lebih) besar yang dapat digunakan sebagai senjata
menekan pemerintah. Dengan sumbangan semacam ini, kita berharap kasus
seperti yang dialami Ceriyati tidak terulang atau berkurang jumlahnya.(*)

Joko Sumantri,

Koordinator Redaksi Buletin Sastra Pawon,Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: