Multiple Inteligent

Ini tulisan istri gw yang di muat dalam majalah dinding di sekolahnya. sapa tau bisa berguna buat semua.

Cheers
gmon

“Mengapa anak saya sulit sekali untuk diajak duduk dan belajar?”, “mengapa anak saya suka membantah?”, mengapa anak saya bersembunyi jika ada orang menyapanya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang senada dengan yang diatas, sering sekali dilontarkan oleh para orang tua murid kepada saya. Jawabannya sederhana, namun membutuhkan pemahaman yang mendalam. “Setiap anak berbeda”.

Saya yakin, kebanyakan dari kita sudah sering mendengar dan mengetahui pernyataan tersebut. Namun, mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti “mengapa anak saya belum bisa duduk diam atau membaca atau menulis, sementara teman-temannya sudah bisa?’. Masih banyak dilontarkan?

Marilah kita lihat lebih jauh, mengapa anak kita berbeda dari anak yang lain. Seberapa bedakah anak kita?

Menurut buku-buku yang saya baca, salah satunya yang paling saya sukai, yaitu “Setiap Anak Cerdas!” yang ditulis oleh Thomas Armstrong, anak-anak mempunyai cara yang berbeda-beda dalam belajar. Hal ini berkaitan dengan “multiple intelligence” yang dimiliki oleh tiap anak. Ada delapan kecerdasan dalam “multiple intelligence”.

  • Word smart (Linguistik) : pandai mengolah kata
  • Picture smart (Spasial): pandai mempersepsi apa yang dilihat.
  • Music smart (Musikal): pandai dan peka dalam hal musik.
  • Body smart (Kinestetik-Jasmani): pandai dalam keterampilan olah tubuh dan gerak
  • Logic smart (Logis-Matematis): pandai dalam sains dan matematika
  • People smart (Antarpribadi): pandai memahami pikiran dan perasaan orang lain
  • Self smart (Intrapribadi): pandai dan peka dalam mengenali emosi diri sendiri
  • Nature smart (Naturalis): pandai dan peka dalam mengamati alam

Seperti yang telah saya singgung diatas, cara belajar tiap anak berbeda sesuai dengan kecerdasan yang ia miliki.

Jika anak anda sulit duduk tenang ketika anda memintanya untuk belajar, ajaklah ia untuk menggerakkan badannya dalam belajar. Bisa jadi ia memiliki kecerdasan kinestetik-jasmani yang sedang berkembang. Jangan paksa ia untuk duduk diam, sementara dia bisa lebih optimal jika ia diberi kesempatan untuk belajar dengan caranya. Misalkan ketika anda mengajari anak anda matematika, penambahan. Untuk anak usia dini yang mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani, penggunaan “counter”  seperti kancing atau benda-benda kecil saja sebagai sarana belajar tidaklah cukup. Dia harus bergerak. Ajaklah ia untuk mencari dan mengambil benda-benda yang dia suka yang ada di rumah, kemudian menghitungnya.

Atau ketika anak anda seolah-olah “takut” terhadap orang lain. Mungkin kecerdasan antarpribadi-nya tidak menonjol. Tapi kecerdasan yang lain. Jangan terlalu memaksanya menjadi anak yang kecerdasan antarpribadinya menonjol, karena itu berarti memaksa ia untuk menjadi orang lain. Jangan pula dengan mudah memberinya label “anak pemalu”. Yang perlu anda lakukan adalah memotivasinya untuk lebih berani, tetapi tidak memaksanya.

Pertanyaan lain yang juga sering dilontarkan adalah mengenai anak yang suka membantah. Mungkin anak tidak bermaksud untuk membantah. Ia hanya butuh lebih diyakinkan lagi. Biasanya anak-anak yang suka membantah ini mempunyai perasaan “aku tahu banyak hal”, sehingga ketika kita memberitahu sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia tahu sebelumnya, ia akan mempertanyakan, bahkan menolak. Jika ia mempertanyakan atau membantah banyak hal secara lisan, maka bisa jadi kecerdasan linguistiknya menonjol. Anak dengan kecerdasan linguistik yang menonjol senang bermain dengan kata-kata karena biasanya anak-anak ini mempunyai kosakata yang luas.

Adapun masalah kemampuan membaca yang tidak sama pada tiap-tiap anak, banyak faktor yang mempengaruhinya. Misalnya faktor latihan yang berbeda-beda yang dijalani tiap anak, fasilitas pendukung dalam belajar, dan yang paling banyak pengaruhnya adalah faktor tahap perkembangan kognitif yang harus dilalui tiap anak. Menurut pakar psikologi Jean Piaget, ada 4 tahap, yaitu sensorimotor, preoperational,  concrete operation dan formal operation. Seorang anak tidak bisa memahami keterampilan akademis tertentu sampai ia mencapai sedikitnya tahap concrete operation dari perkembangan kognitif. Pada banyak proses, ini terjadi sekitar usia enam tahun. Piaget menekankan bahwa baginya tidak penting seberapa cepat anak-anak menjalani tahap ini, tetapi yang lebih penting, seberapa menyeluruh mereka terlibat dalam setiap tahap. Yang harus kita lakukan adalah terus memberi rangsangan, stimulus dan motivasi untuk membaca, dan sekali lagi, tanpa memaksanya. Hal itu akan membuat mereka lebih tidak mau lagi untuk membaca.

Saya berharap anda bisa merasa sedikit lega, karena ternyata anda mempunyai banyak alternatif dalam membantu anak anda belajar, dan janganlah panik jika anda melihat anak anda ‘berbeda’ dari anak yang lain. Mungkin anda hanya perlu mencari dan menggali kecerdasan apa yang menonjol yang dimiliki anak anda.

Sekolah Victory Plus akan senang sekali membantu anda dalam menemukan kecerdasan yang dimiliki anak anda. Kami akan memberi uraian yang lebih jelas untuk tiap-tiap kecerdasan, pada Victory Newsletter yang akan datang. Sementara itu…

Selamat bersenang-senang dengan anak anda! 

-Early K. Hapsari, S.Psi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: